Special Offer untuk Nazaruddin: Ungkap 10, Gratis 1 (Anda)

Oleh Asrianto Sultan (Mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Hasanuddin Makassar)

Untuk beberapa hari terakhir, orang Sulawesi Selatan khususnya orang Makassar, atau orang yang tinggal di Makassar, atau orang yang sekarang berada di Makassar, atau sekurang-kurangnya orang yang pernah makan coto Makassar, atau yang paling ekstreme yang sedang membayangkan Makassar *nah loh, hubungannya?, heheheh* pantas untuk tertegun dan merasa malu. Bagaimana tidak, beberapa putra-putri ‘kebanggaan’ Makassar kini diduga terlibat kasus-kasus ‘aneh’, sebut saja Andi Nurpati (Bu Andi) dan Arsyad Sanusi (Pak Arsyad) yang diduga terlibat kasus pemalsuan surat MK dan Andi Mallarangeng (Pak Andi) yang disebut-sebut punya setali satu milyar uang *hahahah* dengan Nazaruddin (Pak Nazar).

Mengingat pakaian kotor di belakang yang mulai mencibir menunggu untuk dicuci dan urusan perut yang mulai heboh menuntut keadilan substansialnya, maka untuk note kali ini, saya akan memfokuskan cerita ‘tak penting ini’ hanya pada kasus yang terakhir disebutkan – Pak Nazar dan Singapuranya.

Pentingnya Jargon “LBHCPTLBHBQ”

Pentingnya jargon “LBHCPTLBHBQ” lambat laun akhirnya diaamiini oleh segelintir elite negeri ini. Bagi teman-teman yang masih bingung apa yang saya maksudkan dengan jargon ‘LBHCPTLBHBQ’ di atas, jargon itu adalah jargon kampanye Jusuf Kalla (Pak Kalla) dalam Pemilu Presiden 2009 lalu yang dihilangkan huruf vokalnya: “Lebih Cepat Lebih Baik”, ngerti?. Gara-gara tidak “LBHCPTLBHBQ” ini, sebagian besar elite eselon 1 dan eselon 2 yang ‘waaoow’ itu mulai tidak nyenyak tidurnya di malam hari, meskipun tidurnya di kasur empuk sekian milyar, di kamar nyaman belasan milyar, dan di rumah mewah puluhan milyar, dan semoga saja tidak dengan ‘istri’ baru bertarif belasan milyar pula *hahahah, becanda*. Bukan hanya masalah tidur yang bermasalah karena tidak nyenyak, tapi juga termasuk masalah makan yang kurang lahap, yang intinya “berilah makanan dan rezeki bagi dirimu dan keluargamu dengan makanan yang halal niscaya Anda dan keluarga Anda akan terhindar dari dahsyatnya api neraka” *hahahah, mengutip isi khutbah Jum’at kemarin di mesjid dekat rumah*.

Masalah tidak “LBHCPTLBHBQ” pertama adalah tidak “LBHCPTLBHBQ” mencekal Pak Nazar ke luar negeri, masalah tidak “LBHCPTLBHBQ” kedua adalah tidak “LBHCPTLBHBQ” menangkap dan memulangkan Pak Nazar kembali ke tanah air, dan masalah tidak “LBHCPTLBHBQ” ketiga adalah tidak “LBHCPTLBHBQ” membungkam Pak Nazar. Semoga saja tidak terjadi tidak “LBHCPTLBHBQ” keempat, kelima, keenam, dan seterusnya, karena kalau itu terjadi, Lembaga Survei Indonesia (LSI) akan ketawa ketiwi dan dengan bangga menuliskan angka 10% hasil servei kepercayaan rakyat terhadap Pak Beye dan Presidennya.

Tidak perlulah diceritakan di sini kronologis kasusnya secara panjang lebar karena saya yakin teman-teman semuanya sudah tahu, bahkan mungkin lebih tahu dari Pak Jafar Hafsah (Ketua Fraksi PD DPR) dan Pak Sutan Batugana (Ketua Bidang Perekonomi PD) *hal ini saya simpulkan dengan begitu hebatnya beberapa teman-teman tentang cerita ini, suatu ketika di gazebo beberapa hari yang lalu. Hahahah* . Namun, salah satu hal menarik dari kasus ini adalah penyataan Pak Nazar yang mengatakan dirinya telah ‘dianiaya’ dan akan melakukan ‘perlawanan’ dari pulau kecil aduhai makmur yang khas dengan patung merlionnya itu.

Pertanyaan “apa yang akan dilakukan Pak Nazar?” yang selama ini berbuah penasaran di segelintir masyarakat akhirnya mulai tercerahkan hari ini. Kedatangan Kompas (Edisi 2/7/2011) *yang sedikit mengagetkan, karena pintu rumah digedor keras tak seperti biasanya oleh Pak Loker Koran subuh tadi* menjawabnya: melalui pengacaranya, OC. Kaligis *kuis: apa kepanjangan dari OC? hahahah*, Pak Nazar mulai membeberkan adanya dana sebesar Rp 9 Milyar yang dibagikan kepada beberapa pelaku deelneming lainnya, menyeruaklah nama-nama seperti Angelina Sondakh dan Mirwan Amir yang yang sekarang menjabat sebagai anggota DPR-RI, Anas Urbaningrum yang sekarang Ketua Umum PD, dan Andi Mallarangeng *sang antagonis jargon “LBHCPTLBHBQ”* yang sekarang menjadi Menpora.

Jempol pertama saya layangkan kepada Pak Nazar karena beliau memilih Singapura sebagai Pentagonya *pentagon adalah nama markas pusat angkatan bersenjata USA dan disebut pentagon karena bentuknya memang pentagon alias bersegi lima*. Alasan utama mengapa Pak Nazar memilih Singapura, bukan karena Singapura belum memiliki perjanjian ekstradisi dengan Indonesia sebagaimana dianulirkan selama ini. Alasan lainnya tentu saja bukan karena Singapura dekat dengan Indonesia yang hanya butuh 20 menit naik kapal dari Pulau Batam, dan juga tentu saja bukan karena di Singapura ada Universal Studio sehingga Pak Nazar bisa menghabiskan waktu berobatnya dengan naik roller coaster dan lain lain sebagainya *ngawur*. Alasan utamanya adalah karena sistem hukum di Singapura memungkinkan warga negara asing mencari keadilan apabila di negara asalnya diduga terjadi praktik pengadilan yang tidak adil. Menurut Anda pintarkah Pak Nazar? Kalau iya, mohon jempol teman-teman juga dilayangkan untuk Pak Nazar seperti yang telah saya lakukan.

Jempol kedua saya layangkan kepada Pak Nazar karena beliau berani, kerennya disebut brave, dan kalau diandaikan Pak Nazar adalah seorang counter terorist di game hebat Counter Strike, maka angka bravery Pak Nazar mencapai 9 atau 10, angka maksimal. Bukti keberanian Pak Nazar di antaranya yaitu: tidak menghiraukan perintah The Majesty Susilo Bambang Yudhoyono sebagai sesepuh PD yang memintanya untuk segera kembali ke Indonesia, ‘mengkhianati’ sederetan petinggi PD, dan mengungkap nama-nama pelaku deelneming lainnya. Pak Nazar menurut saya sudah dapat disejajarkan dengan Pak Inu Kencana *masih ingatkah Anda?* yang membongkar skandal kekerasan di sekolah calon pejabat: STPDN yang sekarang IPDN, Ibu Samiati yang membongkar skandal contek massal, dan Jendral Susno Duadji yang membongkar skandal kroupsi pajak Gayus HP Tambunan meskipun akhirnya dikriminalsiasi dan dikhianati negara.

Jasus Versi Koruptor

Untuk kasus Pak Nazar ini, saya teringat istilah jasus (سجاسو) yang ada waktu di pesantren dulu *hahahah, kayak tong pernah di pesantren*. Jasus adalah bahasa Arab yang artinya mata-mata atau briton kerennya adalah spy. Jasus adalah gelar rahasia seorang santri/santriwati yang telah melakukan pelanggaran tata tertib pesantren dan untuk lepas dari deraan hukuman yang menantinya, maka santri/santriwati itu ditugaskan untuk mencari santri/santriwati pesantren lainnya yang melakukan pelanggaran. Apabila jasus telah mendapatkan pelanggar baru maka gelar rahasia sebagai jasus ini akan dilepaskannya sekaligus lepas dari deraan hukuman. Adil? Iya, efektif? Iya. Inilah strategi hebat kehidupan pesantren untuk menciptakan stabilitas ‘keamanan dalam negerinya’ yang pantas untuk dicontoh ‘negeri luar’: Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Berbagai strategi pemberantasan korupsi di negeri ini telah diumpamakan dengan beraneka macam perumpamaan, di antaranya adalah bagai macan ompong atau bagai pisau yang bawahnya tajam dan atasnya tumpul. Perumpamaan tersebut timbul disesuaikan dengan realitas pemberantasan korupsi yang ada yang cenderung tidak ada apa-apanya. Maka dari itu, diperlukan suatu strategi baru nan efektif dalam rangka pembumihangusan budaya korup di negeri ini, yang salah satunya menurut saya yang pantas adalah dengan meniru strategi gelar rahasia jasus yang ada di kehidupan pesantren. Jika hal tersebut diterapkan terhadap pelaku korupsi, adilkah? Adil dengan syarat terlebih dahulu mengembalikan semua kekayaan negera yang telah dikorupsinya. Efektifkah? Saya rasa belum, maka dari itu untuk mengefektifkannya saya melirik strategi pemasaran Matahari Department Store yaitu Buy 1, 1 Free, yang selanjutnya untuk persoalan koruptor dimodifikasi menjadi: Ungkap 10, Gratis 1 (Anda). Saya kira inilah penawaran spesial yang pantas untuk diberikan kepada Nazaruddin: Ungkap 10, Gratis 1 (Anda). Koruptor masuk bui, rakyat sejahtera, negara jaya, MERDEKA INDONESIA.

Asrianto Sultan

0 Responses to "Special Offer untuk Nazaruddin: Ungkap 10, Gratis 1 (Anda)"

Poskan Komentar